Lewati navigasi

Aku hanya terdiam, menatapi benda berbentuk kotak di hadapanku. Tanpa melakukan apapun. Benda ini menjadi saksi bisu yang menatapku pagi ini. Menatapku yang sedang terdiam, kosong, sesekali mengambil selembar tisu, untuk mengusap tetesan air yang bergulir. Lagi-lagi, aku telah mengkorupsi waktu hari ini.

Tak tahu kenapa, makin hari aku semakin melemah, semakin tak berarti.
Lagi-lagi aku tak tahu rasa apakah ini, yang ku tahu rasa ini tak bisa hilang dan semakin mengakar.
Aku tak tahu kapan ini bermula, tapi rasanya tak ingin mengakhiri.
Sekali lagi aku memang tak tahu, tak tahu apa-apa.

Ya Allah,
Jika harus ku terjatuh, maka ikhlaskanlah hatiku untuk menerima, dan ringankanlah langkahku
Jika tidak, mudahkanlah langkahku, berilah aku jalan.
Hanya Engkau yang mampu membolak-balikan hati,
Hanya Engkaulah Sang Pemilik Hati
Aku hanya bisa berdoa, berusaha
dan tetap percaya pada semua Ketentuan-Mu…

Yah.. aku masih percaya…

Dua jam berlalu, aku masih terpaku menatap benda kotak di hadapanku…
Ya Allah kuatkan hatiku, maafkan aku…

Sore yang mendung, aku berjalan seperti biasanya. Menyusuri jalanan menuju tempatku berteduh. Berjalan dengan penatnya. Entah mengapa kepala ini terasa berat, dada ini terasa sesak. Seakan-akan memasuki ruang hampa udara. Bergejolak dengan semua pikiran-pikiran aneh. Seolah-olah akulah manusia yang paling hina, dari negeri yang tidak terjamah. Akupun bertanya, mengapa?

Kususuri jalanan itu, Terdengar bisingnya kendaraan yang lalu lalang, melintas dengan cepat seakan ingin meninggalkan jalanan ini sesegera mungkin. Debu pun berterbangan menambah kehirukpikukan jalanan ini. Kulihat mereka, yang sedang berlomba menggapai ujung jalan. Mereka harus terhenti karena sebuah benda yang memancarkan warna merah itu, benda yang membuat kemacetan panjang. Mereka pun berjalan perlahan, perlahan, sampai pada waktunya mereka akan berlari lagi.

Kulihat juga orang-orang lainnya di pinggir jalan. Sebagian menjajakan tumpangan menuju ujung jalan, sebagian lagi sibuk mencari dan menunggu tumpangan itu. Semua berhamburan, keluar dari kotaknya masing-masing. Menuju kotak lain di luar sana yang membuat mereka nyaman, tenang, dan merasa terlindungi… Yah, kotak itu adalah tempat sebaik-baiknya kotak, kotak yang penuh dengan kehangatan dan cinta, rumah mereka.

Kupandangi lagi sekelilingku, kunikmati semua alur cerita ini. Kurasakan nafasku setiap detiknya. Aku masih bisa bernafas, bernafas dengan cuma-cuma. Alhamdulillah….
Aku masih bisa melihat betapa indahnya lukisan Sang Pencipta.
Aku masih bisa mendengar harmoni kehidupan penyejuk jiwa.
Dan aku masih bisa menggerakkan kakiku untuk melangkah, mencari ujung jalan itu.
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillahirobbilalamin..

Kau berikan aku nikmat yang tiada ternilai…
Kau berikan aku keluarga yang menyayangiku
Kau berikan aku teman-teman yang setia menemaniku
Kau berikan aku tempat persinggahan di kala panas dan hujan
Kau berikan aku anggota tubuh yang lengkap
Kau berikan aku akal pikiran untuk memecahkan permasalahan
Kau berikan aku perasaan sayang kepada ciptaan-Mu
Kau berikan aku pelajaran tentang kehidupan
Kau berikan aku segalanya…

Jadi, tak sepantasnya aku mengingkari takdir-Mu… Tak sepantasnya!
Terima kasih ya Allah atas nikmat setiap detiknya

Mel, yang pertama sekali harus diluruskan yaitu niat sempurnakan ikhtiar dan bertawakal untuk memutuskan sesuatu, Insyaallah kedepan selalu mendapat bimbingan dari Allah, selalu jadikan Allah sebagai penolong dan pelindung”.

Sore itu, 26 November 2010, kudapati pesan itu di inboxku. Aku terdiam sejenak dan tak sadar kalau air mata ini mengalir dengan sendirinya. Menetes dengan pelannya lalu membuatku terisak-isak di sebuah kamar kecil yang sempit memecah keheningan senja. Sebuah pesan yang membuatku sadar, masih ada yang peduli padaku. Pesan yang mengingatkanku akan apa sebenarnya niatku selama ini. Sudahkah aku bertawakal? Atau mungkin aku hanya berkeluh kesah selama ini? Sudahkah semua yang kulakukan hanya untuk mencari ridho-Nya? Aku hanya terpaku, tak bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Terdiam dan menyesali apa yang telah kulakukan selama ini.

Niat, sesuatu yang mendasari apa yang ingin kita lakukan, apa tujuan dari kegiatan itu, dan bagaimana keyakinan kita terhadap jalan yang kita tempuh. Niat mendasari jalan pikiran kita. Apa yang kita niatkan itulah yang kita dapat. Setidaknya kalimat tersebut berlaku untukku. Mungkin niatku selama ini masih belum lurus hingga tak jarang kudapati kekesalan, kekecewaan, kegundahan dalam menghadapi semua aspek kehidupan. Mungkin aku terlalu rapuh ditempa gelombang kehidupan.  Terlalu rentan diterjang badai, hingga rasanya tak mampu berbuat apa-apa selain diam dan menyesal. Ah, aku harus bangkit!

Aku yakin, saat sudah diniatkan dengan baik, segala sesuatu akan berjalan dengan semestinya. Sesulit apapun keadaan yang kita alami, seberat apapun tekanan dari luar, sekuat apapun perangkap yang mengelilingi, ingatlah akan niat awal kita untuk mencari ridho-Nya, yakinlah Dia akan menjadi penolong dan pelindungmu.

#Didedikasikan untuk semua orang baik yang berada di lingkungan kurang baik. Semoga Allah melindungi kita semua. Amin.

 

Sudah 6 bulan lebih lamanya, tidak pernah menulis sepatah kata pun disini. Tepat tanggal 13 April yang lalu, tulisan terakhir  terpampang disini. Aku pun membisu setelah itu.

Delapan Bulan

Saat tulisan ini kuketik, nyaris delapan bulan aku berada disini, melakukan, mengamati, melihat, mendengar, merasakan, memikirkan sesuatu. Aku berusaha keras memikirkannya bahkan terlalu memikirkannya hingga kadang tak masuk logikaku sebagai makhluk yang berakal. Aku berpikir, berpikir mencoba memahami apa yang sebenernya terjadi di diriku, di mereka, di lingkungan sekitarku. Aku mencoba menganalisis peristiwa, tapi kadang tercampur-aduk dengan perasaan. Aku mencoba berontak, berlari, dan bersembunyi. Tapi kusadari, itu hanya sia-sia. Kulihat mereka tenang-tenang saja, lebih tenang dari air di dalam sumur yang tak tersentuh. Walau kadang mereka ricuh, bagai ombak di tepi karang curam. Ah, aku terlalu bimbang!.

Aku hanya bisa tersenyum :) , tertawa :D , dan menangis :’(.

Kehidupan memang rangkaian kompleks. Mungkin sekompleks rumus-rumus yang ada di statistika dasar. Bahkan tidak mempunyai pola, sungguh menakjubkan. Semuanya ialah kejutan. Kejutan-kejutan kecil dari Tuhan.

Belajar Memaknai

Kejutan yang Ia berikan tiap detiknya, membuatku belajar dari waktu ke waktu. Aku mencoba bagaimana menyikapi kejutan itu. Kadang aku meledak, meledak memerah bagaikan sebuah bom waktu. Kadang aku tenggelam, bagai jangkar kapal yang terbenam. Kadang aku membatu. Tak tau mau berbuat apa lagi. Rangkaian peristiwa membuatku berpikir, aku harus berjuang, aku harus bersabar, aku harus tersenyum, aku harus bersyukur. Kapan pun dan dimana pun aku berada.

Terima Kasih Tuhan :) .

Pengen sedikit berbagi cerita mengenai pekerjaan baru saya. Sebut saja tempat ini terdiri dari puluhan orang yang memakai seragam yang sama hampir tiap harinya.

Saya baru enam minggu kerja disini. Dengan status pegawai baru, tentu saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, kerjaan yang baru, orang-orang yang baru. Baru beberapa minggu kerja disini banyak hal yang terjadi, saya amati, saya lihat, dan saya rasakan. Hmmm kadang enak, kadang ga enak.

Dimulai dari yang enak-enak dulu deh. Apa aja sih yang enak menurut saya di tempat kerja ini?

  1. Orangnya ramah-ramah, lingkungan penuh kekeluargaan.
  2. Suka kalau diajak rapat karena akan menambah pengetahuan baru. Walaupun saya cuma mendengarkan tapi dalam hati saya berseru, “finally, ada ilmu baru hari ini!!!”. Seneng bisa tau permasalahan-permasalahan dan solusinya walau nantinya saya disuruh buat notulensi rapat. Selain seneng juga dapet snack pas rapat, hehe. Lumayan pengganjal perut. :D
  3. Seneng ngedengerin kalau ada yang ngomong bahasa Inggris
  4. Seneng dapet oleh-oleh kalau ada yang pulang dinas di luar provinsi.
  5. Seneng dapet makan pagi. Haha. Lumayan kalau lagi laper.
  6. Seneng masih ada yang suka ngingetin tentang agama.
  7. Seneng kalau tanggal muda, gajian, gajian, hahay, siapa sih yang ga seneng gajian.

Nah sekarang yang ga’ enaknya nih.

  1. Ga’ suka kalau ga’ ada kerjaan, jadi ga’ jelas gitu, sampe bosen, sen, sen dan ngantuk. Hoammmm
  2. Sampe sekarang belum ada kerjaan yang berbau statistik. T_T
  3. Ga’ suka dengan kerjaan yang kadang berbeda sama prinsip. Menyeramkan … >.<
  4. Ga’ suka denger orang ribut-ribut ga’ jelas apalagi ngomongin duit atau saling menyalahkan.
  5. Kadang merasa kayak tahanan. Kerjaan kok itu-itu aja. Saya ingin ilmu baru.

Enak ga enak harus dijalani. Kadang pengen kabur tapi ga tega dan ga pengen juga.  Tetap smangat dan jangan sampai terbawa arus.

Sore ini, sepulang kerja, di dalam angkot yang panas bagai dalam oven, aku duduk di pojok, lesu, berkeringat, dan mengantuk.  Melihat di sekelilingku, ramai dengan kendaraan lainnya. Gerah sekali rasanya dan inginku segera sampai ke kostan untuk beristirahat.  Di depan stasiun, seorang penumpang naik ke angkot tersebut, wajahnya tak asing bagiku. Yah, Beliau adalah dosenku waktu kuliah dulu. Dosen yang telah mengajar 3 mata kuliah kepadaku waktu itu. Aku hanya tersenyum :) dan kulihat Beliau membalas senyumku. Mungkin Beliau ingat padaku, atau mungkin hanya membalas senyumku walau tak tau siapa aku….

Aku pun menghiraukan dosenku. Mataku pun sayup-sayup dan aku tertidur sejenak tapi tetap bisa mendengar keadaan di sekelilingku. Di dalam angkot, kudengar dosenku sedang ditelpon. Aku pun terjaga, karena ini pemberhentian terakhir. Aku harus melanjutkan perjalanan dengan menaiki angkot yang lainnya.

Di terminal, kulihat dosenku berjalan ke kanan dan aku melangkah ke kiri untuk mencari angkutan lain. Tak kusangka, Beliau menyapaku. Beliau masih ingat kalau aku ialah anak didiknya. Malu aku karena Beliau menyapaku duluan. Karena perjalanan kami searah, kami menaiki angkutan yang sama, dan ngobrol-ngobrol di dalam angkutan.

To be continued… *mau nonton workshop Indonesian Idol dulu yah :D

Di suatu pagi di tempat kerja baru. Tempat yang saya sendiri masih ragu dan bertanya-tanya, apakah ini tempat terbaik untukku? Tempat yang diberikan oleh-Nya untukku.

Pagi itu, aku bertemu dengan orang-orang baru, dengan ramahnya saling menyapa. Mereka berbagi cerita, memberi sedikit gambaran. Hari itu, setelah diberi arahan dan dikenalkan dengan beberapa orang, kami diajarkan mengenai penanganan surat. Selanjutnya kami hanya duduk dan bercerita, sampai akhirnya satu persatu temanku dipanggil dan diberi amanah untuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan aku, masih duduk terdiam, tanpa mengerjakan sesuatu…

Kulihat di sekelilingku, ruangan yang tidak terlalu besar terdiri dari 9 meja mengisi setiap sisi ruangan, beberapa kursi yang berpasangan dengan meja, 1 buah komputer di meja pojok, dan 1 buah mesin tik di sebelahnya. Meja-meja itu sepertinya sudah ada yang menghuninya. Dari ruangan itu, terlihat ruangan lain di sebelahnya, ukuran dan fasilitasnya kurang lebih sama dengan ruangan lainnya.

Di tengah lamunanku yang berlari entah kemana, seorang Bapak (salah satu petinggi disana) memanggilku untuk sekedar berkenalan dan berdiskusi. Hmm mungkin karena melihatku sendirian yang ga’ jelas dan senyum-senyum doang. Dia bercerita panjang lebar mengenai tempat ini, bagaimana menempatkan diri, bahkan tentang apa yang mungkin bisa dilakukan seorang statistisi disini nantinya.  Pemikirannya sedikit mengobati rasa penasaranku tentang apa yang bisa kulakukan disini dengan ilmu yang sudah kudapat sebelumnya. Ada beberapa nasihat dan pandangannya yang masih kuingat, diantaranya :

  • Belajarlah sebanyak-banyaknya, jika memang belum ada yang bisa dikerjakan, cobalah membaca.
  • Jangan suka milih-milih kerjaan. Walaupun sudah sarjana hendaknya tidak ‘bau’ dengan kerjaan, meskipun hanya membuat amplop ataupun menulis saja.
  • Jika punya keahlian dalam bidang komputer (ngetik-ngetik maksudnya dan skill lainnya) dan dimintai bantuan hendaknya membantu yang lainnya. Jangan asik dengan pekerjaan sendiri. Kita harus juga tahu pekerjaan rekan-rekan lainnya.
  • Berhematlah. Walau gaji tak seberapa, tapi pikirkanlah untuk mulai berhemat. Lihatlah yang lainnya dengan gaji yang sama tapi mampu menghidupi keluarganya. Cobalah sedikit demi sedikit menabung. Belum tentu yang pendapatannya tinggi bisa menabung karena semakin tinggi pendapatan biasanya semakin besar pengeluaran.
  • Bersyukur.

Terima kasih atas nasihatnya…

Pada suatu hari, seorang anak, yang punya banyak keinginan dan impian, berharap dengan sangat agar keinginannya terkabul. Ia menunggu, menunggu, dan menunggu akankah semua mimpinya terkabul. Ia berharap pada suatu keajaiban. Seperti di film-film yang Ia sering lihat di televisi. Sang tokoh utama, beruntung karena seperti mendapatkan keajaiban. Mendapatkan kebahagian, kesenangan, seperti yang tokoh utama inginkan. Cerita-cerita yang happy ending sesuai dengan impian sang anak tersebut.

Di kehidupan nyata, anak tersebut juga memimpikan kebahagiaan. Ia terlalu percaya pada sebuah keajaiban. Keajaiban yang akan muncul, jika ia menunggunya. Mungkin seperti mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, bagaikan mengikuti sebuah undian. Ia tak tau kapan akan memenangkan undian tersebut. Hanya menunggu dan menunggu…

Pada suatu ketika, Ia sangat berharap pada keajaiban tersebut. Ia sangaaat berharap dan yakin bahwa keajaiban itu akan datang. Namun yang Ia alami, keajaiban itu tidak kunjung datang juga. Yah, mungkin belum waktunya keajaiban itu datang :) . Ia hanya tersenyum kecil. Berharap keajaiban akan menemuinya di lain waktu. Kedua kalinya Ia menanti keajaiban, ternyata keajaiban itu juga tak kunjung datang. Ketiga, keempat, kelima kalinya, bahkan berkali-kali Ia menanti keajaiban, namun keajaiban tersebut masih tak menghampirinya… Sang anak pun menjadi sedih dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa ini terjadi. Ia pun bertanya pada penciptanya, mengapa tak Kau beri juga keajaiban itu padaku. Mengapa Kau tak adil padaku… Mengapa kau berikan keajaiban itu pada mereka, bukan padaku..

Dengan isak tangis dalam kesenduan, sang anak pun kembali merenung. Mengapa seperti ini? Ia mulai memikirkan, apa yang salah dengan harapan dan keajaiban yang Ia tunggu tersebut. Ia pun segera mengusap air mata di pipinya. Ia pun berjanji, takkan lagi menunggu keajaiban tersebut. Ia mulai tidak percaya pada keajaiban.

Ia tetap menyimpan mimpi-mimpinya, tanpa hanya dengan menunggu, tapi dengan mengusahakannya. Lambat laun, ia belajar banyak hal. Belajar hal-hal baru yang tidak Ia ketahui. Belajar untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang Ia punya. Ia pun mulai bisa menghadapi realita, walau kadang tidak semulus yang diharapkan, tak seindah film-film yang ia lihat.

Sang anak, tetap yakin, kalau keajaiban itu bukan untuk ditunggu tapi harus diusahakan. Keajaiban bukanlah bilangan acak, bukan juga bagai menunggu melihat bintang jatuh. Keajaiban adalah hasil dari serangkaian proses panjang yang harus Ia lalui, dengan semangat, kerja keras, pantang menyerah, dan doa.

mudah2an diberi yang terbaik ya Allah

Dah lama banget ga posting lagi,, bingung juga mau posting apa,, dan akhirnya posting asal2an lagi..

Report aja kali yah,, *hihihi kayak LPJ -Laporan Pertanggungjawaban- aja*

Kegiatan akhir2 ini,, yaitu :

Pertama, Alhamdulillah, setelah setahun lamanya *setahun kurang sebenarnya*, bisa mudik juga ke rumah, lebaran bersama keluarga. Lumayan puas berada di rumah sekitar 3 minggu lebih :) .

Kedua, Alhamdulillah lagi, minggu depan -13 Oktober 2009-, insya Allah saya akan mengikuti wisuda, tentu saja bersama teman2 lainnya. Walaupun, yang datang nantinya hanya Mama dan Yuk Vivi tanpa Papa (karena ada pelatihan selama seminggu lebih) dan Adik2ku tersayang (karena lagi rajin2nya ujian tiap bulan :p). Buat Papa dan adik2ku,, moga berhasil ujiannya. Doaku menyertaimu. Amin.

Ketiga, Alhamdulillah juga masih diberi akal dan pikiran *sama aja kali yah akal=pikiran* buat ‘kebingungan’ pasca lulus dari S1. Alhamdulillah lagi banyak sekali lowongan kerja untuk statistisi yang akhirnya membuat bingung kami2 ini menentuan arah dan tujuan *kayaknya bukan kami deh tapi saya*. Bingung mau melamar kerja ke perusahaan swasta atau melamar cpns yang sekarang lagi berseliweran, datang silih-berganti, atau mau bikin usaha sendirikah. Bingungnya mirip waktu TPB -Tingkat Persiapan Bersama- dulu mau menentukan departemen/mayor/jurusan, bingung karena masih kurang informasi dan belum memantapkan hati. Masih banyak pertanyaan yang mengganjal,, mau melakukan apa saja diri ini 3-5 tahun lagi, 10 tahun lagi, bahkan 20 tahun lagi *kalau masih diberi umur oleh yang di Atas*. Mudah2an kebingungan ini berangsur-angsur menghilang dengan semakin fokusnya tujuan hidup. Amin.

Daripada berbingung-bingung ria,, mending kita berbahagia menyambut wisuda dan menikmati waktu2 luang ini. Kapan lagi bisa seperti ini??? Karena hidup ini terlalu sayang untuk dilewati tanpa dinikmati.

Salam Damai Selalu ^__^

Luv U All

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.