Skip navigation

Category Archives: life

Suatu hari di bulan Februari…

Bismillahirrohmannirrohim…

Alhamdulillah.. Alhamdulillah..

Tulisan pertama di 2012 keluar juga, setelah lama udah vakum ga’ kerasa dari tahun lalu. Baiklah, di hari yang baik ini, saya mau nulis yang baik-baik juga yah..

Ok, dimulai aja yah..

Alhamdulillah lagi, ga’ kerasa saya sudah berada di tahun 2012. Suatu fase dimana saya telah mengalami banyak hal, merasakan banyak hal, mempelajari banyak hal, terima kasih Tuhan…

Satu hal yang saya pelajari dalam mengarungi hidup ini *ceileh ngomong apa sih saya*,

Hidup itu harus punya mimpi, mimpi itu dibangun dengan usaha, kerja keras, dan doa. Bila ternyata mimpi itu tak bisa dicapai, coba evaluasi diri, jangan menyalahkan orang lain. Jangan terlalu kecewa terlalu dalam sehingga seolah-olah hidup sudah tak ada artinya lagi. Evaluasi diri, evaluasi diri, evaluasi diri. Mungkin caranya yang salah, mungkin niatnya juga yang masih kurang baik, atau mungkin terlalu memaksakan kehendak, mungkin dengan kegagalan sebenarnya kita telah diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi. Sekali lagi, semua harus atas izin-Nya.

Jalan kebaikan masih terbuka lebar, tak peduli betapa buruknya kita di masa lalu, saya yakin, Tuhan Maha Pemaaf, Maha Mendengar, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

Oke, baiklah. Cukup sekian dulu coretan di pagi menjelang siang  yang penuh kebaikan hari ini…

Semoga kebaikan selalu menyertai kita semua..

Aamiin 🙂

Iklan

Aku hanya terdiam, menatapi benda berbentuk kotak di hadapanku. Tanpa melakukan apapun. Benda ini menjadi saksi bisu yang menatapku pagi ini. Menatapku yang sedang terdiam, kosong, sesekali mengambil selembar tisu, untuk mengusap tetesan air yang bergulir. Lagi-lagi, aku telah mengkorupsi waktu hari ini.

Tak tahu kenapa, makin hari aku semakin melemah, semakin tak berarti.
Lagi-lagi aku tak tahu rasa apakah ini, yang ku tahu rasa ini tak bisa hilang dan semakin mengakar.
Aku tak tahu kapan ini bermula, tapi rasanya tak ingin mengakhiri.
Sekali lagi aku memang tak tahu, tak tahu apa-apa.

Ya Allah,
Jika harus ku terjatuh, maka ikhlaskanlah hatiku untuk menerima, dan ringankanlah langkahku
Jika tidak, mudahkanlah langkahku, berilah aku jalan.
Hanya Engkau yang mampu membolak-balikan hati,
Hanya Engkaulah Sang Pemilik Hati
Aku hanya bisa berdoa, berusaha
dan tetap percaya pada semua Ketentuan-Mu…

Yah.. aku masih percaya…

Dua jam berlalu, aku masih terpaku menatap benda kotak di hadapanku…
Ya Allah kuatkan hatiku, maafkan aku…

Sore yang mendung, aku berjalan seperti biasanya. Menyusuri jalanan menuju tempatku berteduh. Berjalan dengan penatnya. Entah mengapa kepala ini terasa berat, dada ini terasa sesak. Seakan-akan memasuki ruang hampa udara. Bergejolak dengan semua pikiran-pikiran aneh. Seolah-olah akulah manusia yang paling hina, dari negeri yang tidak terjamah. Akupun bertanya, mengapa?

Kususuri jalanan itu, Terdengar bisingnya kendaraan yang lalu lalang, melintas dengan cepat seakan ingin meninggalkan jalanan ini sesegera mungkin. Debu pun berterbangan menambah kehirukpikukan jalanan ini. Kulihat mereka, yang sedang berlomba menggapai ujung jalan. Mereka harus terhenti karena sebuah benda yang memancarkan warna merah itu, benda yang membuat kemacetan panjang. Mereka pun berjalan perlahan, perlahan, sampai pada waktunya mereka akan berlari lagi.

Kulihat juga orang-orang lainnya di pinggir jalan. Sebagian menjajakan tumpangan menuju ujung jalan, sebagian lagi sibuk mencari dan menunggu tumpangan itu. Semua berhamburan, keluar dari kotaknya masing-masing. Menuju kotak lain di luar sana yang membuat mereka nyaman, tenang, dan merasa terlindungi… Yah, kotak itu adalah tempat sebaik-baiknya kotak, kotak yang penuh dengan kehangatan dan cinta, rumah mereka.

Kupandangi lagi sekelilingku, kunikmati semua alur cerita ini. Kurasakan nafasku setiap detiknya. Aku masih bisa bernafas, bernafas dengan cuma-cuma. Alhamdulillah….
Aku masih bisa melihat betapa indahnya lukisan Sang Pencipta.
Aku masih bisa mendengar harmoni kehidupan penyejuk jiwa.
Dan aku masih bisa menggerakkan kakiku untuk melangkah, mencari ujung jalan itu.
Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillahirobbilalamin..

Kau berikan aku nikmat yang tiada ternilai…
Kau berikan aku keluarga yang menyayangiku
Kau berikan aku teman-teman yang setia menemaniku
Kau berikan aku tempat persinggahan di kala panas dan hujan
Kau berikan aku anggota tubuh yang lengkap
Kau berikan aku akal pikiran untuk memecahkan permasalahan
Kau berikan aku perasaan sayang kepada ciptaan-Mu
Kau berikan aku pelajaran tentang kehidupan
Kau berikan aku segalanya…

Jadi, tak sepantasnya aku mengingkari takdir-Mu… Tak sepantasnya!
Terima kasih ya Allah atas nikmat setiap detiknya

Mel, yang pertama sekali harus diluruskan yaitu niat sempurnakan ikhtiar dan bertawakal untuk memutuskan sesuatu, Insyaallah kedepan selalu mendapat bimbingan dari Allah, selalu jadikan Allah sebagai penolong dan pelindung”.

Sore itu, 26 November 2010, kudapati pesan itu di inboxku. Aku terdiam sejenak dan tak sadar kalau air mata ini mengalir dengan sendirinya. Menetes dengan pelannya lalu membuatku terisak-isak di sebuah kamar kecil yang sempit memecah keheningan senja. Sebuah pesan yang membuatku sadar, masih ada yang peduli padaku. Pesan yang mengingatkanku akan apa sebenarnya niatku selama ini. Sudahkah aku bertawakal? Atau mungkin aku hanya berkeluh kesah selama ini? Sudahkah semua yang kulakukan hanya untuk mencari ridho-Nya? Aku hanya terpaku, tak bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Terdiam dan menyesali apa yang telah kulakukan selama ini.

Niat, sesuatu yang mendasari apa yang ingin kita lakukan, apa tujuan dari kegiatan itu, dan bagaimana keyakinan kita terhadap jalan yang kita tempuh. Niat mendasari jalan pikiran kita. Apa yang kita niatkan itulah yang kita dapat. Setidaknya kalimat tersebut berlaku untukku. Mungkin niatku selama ini masih belum lurus hingga tak jarang kudapati kekesalan, kekecewaan, kegundahan dalam menghadapi semua aspek kehidupan. Mungkin aku terlalu rapuh ditempa gelombang kehidupan.  Terlalu rentan diterjang badai, hingga rasanya tak mampu berbuat apa-apa selain diam dan menyesal. Ah, aku harus bangkit!

Aku yakin, saat sudah diniatkan dengan baik, segala sesuatu akan berjalan dengan semestinya. Sesulit apapun keadaan yang kita alami, seberat apapun tekanan dari luar, sekuat apapun perangkap yang mengelilingi, ingatlah akan niat awal kita untuk mencari ridho-Nya, yakinlah Dia akan menjadi penolong dan pelindungmu.

#Didedikasikan untuk semua orang baik yang berada di lingkungan kurang baik. Semoga Allah melindungi kita semua. Amin.

 

Sudah 6 bulan lebih lamanya, tidak pernah menulis sepatah kata pun disini. Tepat tanggal 13 April yang lalu, tulisan terakhir  terpampang disini. Aku pun membisu setelah itu.

Delapan Bulan

Saat tulisan ini kuketik, nyaris delapan bulan aku berada disini, melakukan, mengamati, melihat, mendengar, merasakan, memikirkan sesuatu. Aku berusaha keras memikirkannya bahkan terlalu memikirkannya hingga kadang tak masuk logikaku sebagai makhluk yang berakal. Aku berpikir, berpikir mencoba memahami apa yang sebenernya terjadi di diriku, di mereka, di lingkungan sekitarku. Aku mencoba menganalisis peristiwa, tapi kadang tercampur-aduk dengan perasaan. Aku mencoba berontak, berlari, dan bersembunyi. Tapi kusadari, itu hanya sia-sia. Kulihat mereka tenang-tenang saja, lebih tenang dari air di dalam sumur yang tak tersentuh. Walau kadang mereka ricuh, bagai ombak di tepi karang curam. Ah, aku terlalu bimbang!.

Aku hanya bisa tersenyum :), tertawa :D, dan menangis :'(.

Kehidupan memang rangkaian kompleks. Mungkin sekompleks rumus-rumus yang ada di statistika dasar. Bahkan tidak mempunyai pola, sungguh menakjubkan. Semuanya ialah kejutan. Kejutan-kejutan kecil dari Tuhan.

Belajar Memaknai

Kejutan yang Ia berikan tiap detiknya, membuatku belajar dari waktu ke waktu. Aku mencoba bagaimana menyikapi kejutan itu. Kadang aku meledak, meledak memerah bagaikan sebuah bom waktu. Kadang aku tenggelam, bagai jangkar kapal yang terbenam. Kadang aku membatu. Tak tau mau berbuat apa lagi. Rangkaian peristiwa membuatku berpikir, aku harus berjuang, aku harus bersabar, aku harus tersenyum, aku harus bersyukur. Kapan pun dan dimana pun aku berada.

Terima Kasih Tuhan :).

mudah2an diberi yang terbaik ya Allah

Bismillahirrohmanirrohim…

Yup, pasti bisa!

Semangat!!!!

Menjelang Pemilu yang tinggal 1 hari lagi…
Menjelang deadline dari dosen PS yang tinggal 3 hari lagi…
Menjelang memasuki semester 9 yang tinggal beberapa minggu lagi…
Menjelang pendaftaran wisuda yang katanya tinggal 1,5 bulan lagi…

dengan menimbang dan akhirnya memutuskan untuk Off sejenak dari dunia maya karena internet di kostan akan diputus mulai bulan Juli ini…
*tapi masih bisa internetan di kampus,, padahal gag punya password :P*

Moga semuanya berjalan lancar…

Tidakkah aku memikirkan bahwa kenapa hidup ini biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial. Menjalani hari-hari seperti biasanya. Melaksanakan tugas dan kewajiban dengan biasa-biasa saja. Belajar, bermain, bekerja dengan cara yang biasa-biasa saja.

Yah, hidup dengan cara biasa. Asal nyaman dengan kondisi sekarang ini masih dengan kehidupan yang sama. Masih bisa makan, belajar, dan bertempat tinggal dengan nyamannya. Masih terasa nyamankah???

Sejak lahir diberi dengan fasilitas sandang, pangan, papan, bisa dibilang masih cukup untuk hidup. Aku bersekolah dari SD, TK mungkin, hingga dapat mengenyam pendidikan di strata 1. Apakah masih terasa biasakah???

Kadang kuberpikir,, apakah aku nyaman dengan kondisiku ini? Apakah ini kehidupan yang aku cari?

Kadang aku minder, sering sekali malah, kadang menyesali keadaan karena ketidakberdayaan.

Melihat kesana terlalu indah rasanya. Akankah tetap hidup seperti ini tentunya saaaangat biasa-biasa saja…

Sekolah-Kerja(mengabdi pada orang tua)-Nikah-Punya Anak-Mendidik Anak-…-dan akhirnya kembali pada-Nya

Inikah inti dari kehidupan???

-Minder-

Satu kata yang menyelimuti jiwa. Ketika melihat sesuatu yang sangat besar, hebat, dan sepertinya tak bisa digapai. Aku pun bertanya-tanya… mengapa? mengapa mereka bisa? bukankah kita sama-sama manusia? hidup di bumi yang sama? diciptakan oleh Tuhan yang sama? bahkan kita ada di lingkungan yang sama? siapa yang salah? aku… tentu saja aku…

-Semangat-

Kata yang menyejukkan jiwa. Ketika gundah, resah atas ketidakberdayaan bukankah masih ada harapan? sebuah semangat. Semangat yang selalu menyerukanku, “Yah, Aku Bisa”. Tidakkah kita semua sama saja? Sebuah semangat itu meracuni pikiranku untuk selalu berpikir positif. Akankah aku tetap seperti ini, biasa-biasa saja.

Senyum, tawa, dan canda mereka masih jelas terpancar…

Merekah penuh sabar menanti secercah kejayaan…

Langkah-langkahmu tiap detiknya tak akan ku sia-siakan…

Setetes peluhmu cambukkan bagiku..

Aku harus lebih baik…

Aku harus lebih baik…

Aku harus lebih baik…

Takkan kubiarkan semua ini sia-sia…

Takkan ku menyerah pada keadaan…

Terima kasih Tuhan…

Kan kuberikan semua yang terbaik untuk kalian….

Hanya senyummu yang kuharapkan.

Awalnya mau nulis tentang report terakhir praktik lapang yang sudah 2 minggu berlalu,, tapi sepertinya harus dipending dulu untuk tulisan yang satu ini…

Olahraga,,, mmm,, musuh besar bagi saya,, ga’ tau kenapa,, dari sejak SD saya ga’ suka yang namanya pelajaran Olahraga,,

Sebagian orang menganggap olahraga itu menyenangkan,,, apalagi dibandingkan pelajaran lainnya,, Yah,, emang menyenangkan bermain-main di halaman yang luas,, berlari-larian mengejar bola,,, hanya untuk memukul,, manangkap,, ataupun menendang bola tersebut,, ataupun sekedar mengeluarkan keringat dengan pemanasan-pemanasan ringan yang dilakukan…

Saya juga senang bermain-main,, berlari-larian,, sekedar mengucurkan keringat,, bercanda tawa dengan teman-teman lainnya,, tapi kenapa,, nilai olahraga saya sejak dulu sangat buruk,, dari SD hingga SMA,, nilai 6 pasti ada untuk pelajaran yang satu ini…
Pikiran….