Skip navigation

Tag Archives: pulau sempu

Bismillahirrohmanirrohim…

Akhirnya, tiba juga saat yang kami tunggu-tunggu, yah, LIBURAAAAAN! Horaaayyy! Mengingat penatnya rutinitas sehari-hari, sudah jauh-jauh hari kami rencanakan untuk berlibur. Kali ini, tempat yang akan kami singgahi yaitu Malang dengan tujuan utama ialah Gunung Bromo dan Pulau Sempu. Awalnya kami hanya merencanakan ke Bromo dan Bangkalan Madura *pengen liat Suramadu, norak yah, hahaha*, tapi karena rasa penasaran akan keindahan Segara Anakan di Pulau Sempu, kami membuat rencana ‘dadakan’ kesana.

Jumat, 20 Januari 2012, hari yang memang kutunggu-tunggu, yup, aku sudah membawa ranselku ke kantor dengan semua perlengkapan liburan. Kami akan naik kereta Gajayana pemberangkatan pukul 17.30 WIB dari Gambir menuju Stasiun Kota Baru Malang.

17.00 WIB

Aku baru sampai di Gambir karena sebelumnya tawar menawar dengan abang ojeg dari depan kantor gagal dan akhirnya naik bajaj. Dini udah nunggu dari kapan tau, menjadi penghuni gambir. Mungkin Dini was-was takut ga’ ketemu, soalnya tiket keretanya ada di tanganku, ahaha. Was-was juga nunggu si Nunung yang lagi dalam perjalanan Bandung-Jakarta karena abis outbond disana. Akhirnya Nunung sampe juga 10 menit menjelang keberangkatan kereta. Berbekal nasi padang beli di stasiun, kami siap menanti kereta Gajayana.

17.30 WIB

Kereta pun segera tiba, tiket sudah dipindahtangankan ke Dini. Saking senengnya, kita salah masuk gerbong karena ga bisa bedain mana nomor kursi mana nomor gerbong. Pelajaran No.1 dari perjalanan ini, perhatikanlah dengan benar tiket yang sudah dibeli, jangan sampai bingung sama tiket sendiri. Well, perjalanan dimulai. Jugijagijugijagijug… Kereta meluncur, bismillah kami awali perjalanan kami. Moga hari cerah J.

Sabtu, 21 Januari 2012

09.50 WIB

Kereta Gajayana mengalami keterlambatan dan berhenti di Stasiun Kota Baru Malang. Perjalanan sesungguhnya baru akan dimulai. Dari stasiun, kami akan langsung menuju Hotel Aloha, yang kalau di peta cuma sekitar 400 meter dari stasiun dengan rute lurus, belok kiri, belok kanan *bingung yah ;)* (Jln Kertanegara – Jln Sultan Agung – Jalan Gajahmada). Sesampai di Hotel Aloha, sesosok manusia yang sudah lama tak terlihat raganya sudah menunggu kami, yah, si Supi sudah siap menjadi guide kami hari ini. Setelah check in kamar, kami langsung mencari makanan di sekitar stasiun dan berjodohlah kami dengan sepiring nasi rawon seharga Rp 7.500,-.

Stasiun Kota Baru Malang

Stasiun Kota Baru Malang

11.30 WIB

Setelah puas makan nasi rawon deket stasiun, kami langsung jalan kaki menuju Tugu Kota Malang. Lokasinya persis berada di depannya Balai Kota Malang. Tugu ini tidak terlalu tinggi, yang dikelilingi oleh kolam teratai yang sedang bermekaran. Pemotretan dimulai!!! Mulai dari pose kalem sampe pose loncat-loncat ga jelas yang diulang berkali-kali biar dapet momen melayang di udara. Hasilnya, meningkatnya stok foto background kalender sampe tahun 2013. Hahaha. Setelah puas foto-foto, jalan lagi menuju hotel, saatnya mandi sebelum tur selanjutnya..

Tugu Kota Malang

Tugu Kota Malang

13.00 WIB

Semua sudah pada mandi, kecuali 1 orang yang ga’ mandi *hayooh ngaku tuh*. Tanzil yang nyusul dari Jakarta pake pesawat tadi pagi juga udah nyampe. City Tour dimulai! Tujuan pertama adalah warung bakso Malang depan SMA 3, yup, kami makan lagi :D. Karena laper mata, nyaris semua jenis bakso diambil, bener-bener full. Lanjut ke MOG (Mall Olympic Garden) *bener ga yah kepanjangannya* dengan tujuan utama nyari kaos kaki buat persiapan ke Gunung Bromo. Usut punya usut katanya kalo beli di Bromo harganya lebih mahal, jadi jauh-jauh ke Malang cuma buat nyari kaos kaki nih? hihi. Di sebelahnya MOG, ada Stadion Gajayana, dengan harapan ketemu atlet ganteng yang lagi latihan, kami para cewek-cewek ini muter-muter stadion dan tak lupa foto-foto *lagi*. Harapan tinggallah harapan, jangankan ketemu atlet, stadionnya aja dikunci. Yah belum berjodoh kitaaa 😀
Tujuan selanjutnya ialah Alun-Alun Kota Malang, sekalian mampir di Masjid Agung Malang. Bermodal kepercayaan yang tinggi pada ‘Sang Guide’, Supi, kami pun berjalan kaki menuju Alun-Alun dari Stadion Gajayana yang katanya ‘deket’ jaraknya. Ternyata lumayan lama juga yah baru nyampe Alun-Alun, anggap saja olahraga sekalian liat-liat sekeliling. Setelah solat Ashar, lanjut pemotretan lagi di Alun-Alun dengan tema “Gadis dengan Gelembung Sabun”. Sayangnya alam berkehendak lain, baru mulai niup-niup gelembung sabun, hujan turun. Segera kabur dari Alun-Alun, berteduh di Toko “Oen”, mencicipi es krim disana sambil menunggu hujan reda.. Toko “Oen” ini udah ada sejak tahun 1930 loh, dengan ornamen-ornamen khas jaman dulu. Hujan cepatlah reda, kami menanti hangatnya mentari.

Stadion Gajayana

Es Krimnya Toko “Oen”

Foto-foto dulu sebelum makan es krim

17.00 WIB

Kami kembali ke hotel, dan Supi kembali ke rumahnya. Persiapan untuk perjalanan ke Bromo nanti malam. Istirahat dulu sejenak di kamar hotel.

Minggu, 22 Januari 2012

00.00 WIB

Personil jalan-jalan bertambah lagi, selain aku, Dini, Nunung, Tanzil, Supi “Sang Junior Guide”, kami kedatangan “Sang Senior Gude”, Erwin, khusus diberangkatkan dari Kalimantan. Perjalanan ke Bromo baru akan dimulai jam 1 pagi. Untuk bekal di Bromo nanti, kami membeli makanan ringan di deket stasiun (martabak, roti, minuman, dan snack2an) biar ga kelaparan.

01.00 WIB

Bismillah, kami berenam beserta supir berangkat menuju Bromo. Mendaki gunung lewati lembah ditemani dengan alunan musik “Mengejar Matahari”-nya Ari Lasso. Semoga hari cerah semoga hari cerah.  Perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam, disertai insiden mual-mual khasku karena ga tahan dingin dan jalanan yang berliku-liku. ;p

03.10 WIB

Sampai di meeting point, kami disambut dengan angin dingin menembus kulit. Brrrrr… dinginnya.. disini saja sudah menggigil, apalagi nanti di Pananjakan, view pointnya sunrise. Di meeting point ini, semua yang akan ke Pananjakan berkumpul. Ramai sekali. Penjual-penjual menjajakan dagangannya, mulai dari kaos kaki, syal, sarung tangan, bahkan penyewaan jaket. Di sekeliling tempat ini juga terdapat warung-warung kopi yang menjadi tempat untuk menghangatkan diri sejenak. Di tempat inilah, kendaraan yang dibawa oleh para wisatawan/pendaki/backpacker/atau apapun lah istilahnya, parkir, karena untuk menuju Pananjakan harus menggunakaan jeep sewaan karena medannya yang cukup sulit. Sekitar pukul setengah 4, kami melanjutkan perjalanan menuju Pananjakan.

04.15 WIB

Jeep berhenti, dan kami masih harus berjalan menuju Pananjakan. Dinggggiiiiiiiiiiin sedingin-dinginnya. Gerimis pun menemani, akankah ada sunrise? Di perjalanan, kami berhenti di suatu warung dan menyewa jaket karena tak tahan akan dinginnya udara disana. Memakai 2 lapis jaket pun masih terasa dingiiiin. Kami bersama dengan yang lainnya berkumpul di Pananjakan, gelap, menanti matahari. Tak lupa sholat subuh dulu ga’ pake wudhu alias tayamum karena ga tahan kena dinginnya air disana.

Dingiiin, membeku dalam gelap. Kami membeku, sambil menanti matahari menyibak semua awan-awan hitam yang menyelimuti bukit. Pelan-pelan cahaya muncul, namun matahari enggan menampakkan rupa bundarnya yang anggun. Ia masih malu-malu bersembunyi di balik awan dan bebukitan. Matahari, berikan secercah sinarmu untuk memecah kebekuan ini…

Pananjakan, tempat melihat sunrise

06.30 WIB

Kami berhenti di suatu warung dan menikmati jagung rebus untuk menghangatkan diri sekaligus mengisi perut. Perjalanan dilanjutkan kembali setelahnya, kami berjalan menuju jeep yang akan membawa kami ke kawah pasir Bromo. Alhamdulillah, hari menjadi cerah, yah hari cerah..

07.20 WIB

Sepanjang jalan menuju kawah pasir, terlihat indahnya ciptaan Tuhan YME. Gunung-gunung menjulang indah yang tertutup pohon menghijau bagaikan permadani raksasa. Indah sekali, Subhanallah.. Terbentang juga lautan pasir di kaki Gunung Bromo. Terima kasih ya Allah, menciptakan alam seindah ini.

Sesampai di lautan pasir, ada banyak kuda sewaan disana untuk menuju ke kawah pasir, tapi kami memilih jalan kaki sambil menikmati indahnya lukisan ini. Di lautan pasir ini, terdapat juga sebuah Pura tempat beribadah umat Hindu. Berjalan menanjak, menginjak gundukan-gundukan pasir. Dengan nafas terengah-engah, melalui ratusan anak tangga, sampai juga di puncaknya. Sebuah kawah yang masih aktif dan cukup dalam. Takut rasanya berdiri di atas puncak, karena pijakan yang sempit dipenuhi oleh banyak orang. Kami tidak berlama-lama di puncak, karena ternyata “Sang Junior Guide” takut ketinggian, hihihi.. Ayolah turun lagi dan kita pulang.

10.00 WIB

Jeep kami meninggalkan kawah pasir menuju meeting point dimana mobil sewaan kami berada. Kami kembali pulang menuju Kota Malang, meninggalkan indahnya permadani hijau yang penuh kesan.

Perjalanan masih panjang… Petualangan belum berakhir.. Mari bersiap ke petualangan selanjutnya hari ini..

Iklan