Skip navigation

Monthly Archives: November 2009

Pada suatu hari, seorang anak, yang punya banyak keinginan dan impian, berharap dengan sangat agar keinginannya terkabul. Ia menunggu, menunggu, dan menunggu akankah semua mimpinya terkabul. Ia berharap pada suatu keajaiban. Seperti di film-film yang Ia sering lihat di televisi. Sang tokoh utama, beruntung karena seperti mendapatkan keajaiban. Mendapatkan kebahagian, kesenangan, seperti yang tokoh utama inginkan. Cerita-cerita yang happy ending sesuai dengan impian sang anak tersebut.

Di kehidupan nyata, anak tersebut juga memimpikan kebahagiaan. Ia terlalu percaya pada sebuah keajaiban. Keajaiban yang akan muncul, jika ia menunggunya. Mungkin seperti mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, bagaikan mengikuti sebuah undian. Ia tak tau kapan akan memenangkan undian tersebut. Hanya menunggu dan menunggu…

Pada suatu ketika, Ia sangat berharap pada keajaiban tersebut. Ia sangaaat berharap dan yakin bahwa keajaiban itu akan datang. Namun yang Ia alami, keajaiban itu tidak kunjung datang juga. Yah, mungkin belum waktunya keajaiban itu datang :). Ia hanya tersenyum kecil. Berharap keajaiban akan menemuinya di lain waktu. Kedua kalinya Ia menanti keajaiban, ternyata keajaiban itu juga tak kunjung datang. Ketiga, keempat, kelima kalinya, bahkan berkali-kali Ia menanti keajaiban, namun keajaiban tersebut masih tak menghampirinya… Sang anak pun menjadi sedih dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengapa ini terjadi. Ia pun bertanya pada penciptanya, mengapa tak Kau beri juga keajaiban itu padaku. Mengapa Kau tak adil padaku… Mengapa kau berikan keajaiban itu pada mereka, bukan padaku..

Dengan isak tangis dalam kesenduan, sang anak pun kembali merenung. Mengapa seperti ini? Ia mulai memikirkan, apa yang salah dengan harapan dan keajaiban yang Ia tunggu tersebut. Ia pun segera mengusap air mata di pipinya. Ia pun berjanji, takkan lagi menunggu keajaiban tersebut. Ia mulai tidak percaya pada keajaiban.

Ia tetap menyimpan mimpi-mimpinya, tanpa hanya dengan menunggu, tapi dengan mengusahakannya. Lambat laun, ia belajar banyak hal. Belajar hal-hal baru yang tidak Ia ketahui. Belajar untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang Ia punya. Ia pun mulai bisa menghadapi realita, walau kadang tidak semulus yang diharapkan, tak seindah film-film yang ia lihat.

Sang anak, tetap yakin, kalau keajaiban itu bukan untuk ditunggu tapi harus diusahakan. Keajaiban bukanlah bilangan acak, bukan juga bagai menunggu melihat bintang jatuh. Keajaiban adalah hasil dari serangkaian proses panjang yang harus Ia lalui, dengan semangat, kerja keras, pantang menyerah, dan doa.

mudah2an diberi yang terbaik ya Allah