Skip navigation

Sabtu, 14 Februari 2009, menjelang praktik lapang pada hari senin, kuputuskan untuk mengangkut barang-barang dari Dramaga ke Warung Buncit. Satu tas besar yang kubawa dari rumah saat pertama kali datang ke IPB sudah berisi baju-baju, buku-buku, bahkan sepatu. Cukup berat bagiku untuk mengangkatnya, tapi selama masih bisa diangkat niat pindahan tetap dijalankan. Pukul 9.30 WIB aku berangkat dari kostan, di depan kostan langsung naik angkot kampus dalam dan berhenti di depan Al Amin karena saya harus mengambil uang dulu di ATM. Di depan Al Amin, terlihat temanku Nunung dan Isna dengan barang-barang bawaannya. Sebuah monitor di dalam kardus besar dan tas punggung yang dikenakan Nunung, sedangkan Isna terlihat membawa tas kecil dan membawakan tas yang nyaris sama besarnya dengan punyaku yang berisikan baju-baju dan barang-barang punya Nunung. Isna hanyalah membantu Nunung untuk membawakan barang-barang. Kasihan Nunung yang harus memindahkan komputernya dari Dramaga ke Kemayoran apalagi kalau sendirian. Setelah mengambil uang di ATM yang rencananya buat membayar kostan di Jaksel selama sebulan, kami bertiga “The Power Puff Girls” siap berangkat menuju Stasiun Kota Bogor. Satu angkot setengahnya penuh dengan barangku dan Nunung. Sesampai di stasiun, huff, harus berjalan agak tertatih membawa tas besar tersebut. Aku dengan tas punggung dan tas besar yang dijinjing. Isna dengan tas besar yang juga dijinjing dan Nunung dengan monitor dan tas punggungnya serta ada bungkusan sepatu di atasnya. Tawaran dari beberapa orang bayaran untuk membawakan kami tolak. Setelah membeli karcis kereta ekonomi Bogor-Jakarta kami kembali membawa barang masuk ke dalam kereta menyusuri gerbong demi gerbong mencari tempat duduk yang kosong. Alhamdulillah, ada bangku yang masih kosong, setelah meletakkan barang di bawah kursi, kami pun duduk dengan penuh keringat. Fuih,, jualan keringat kali yah, capek banget pokoknya.

Stasiun demi stasiun dilalui, gerbong pun penuh dengan orang-orang yang berjejalan di dalamnya. Tibalah di Stasiun Pasar Minggu Baru dan akupun harus turun meninggalkan Isna dan Nunung yang masih di dalam karena mereka akan turun di Stasiun Sawah Besar. Setelah berpamitan, aku melangkah sendiri kembali dengan tertatih-tatih mencoba keluar dari Stasiun Pasar Minggu. Baru beberapa meter membawa tas besar tersebut aku pun berhenti sejenak karena kecapekan. Tibalah seorang ibu yang baik hati yang menawarkan jasa membantuku membawa tas besar tersebut tanpa pamrih. Terimakasih Allah, kau kirimkan bantuanmu melalui seorang ibu yang baik hati. Ibu tersebut juga ingin ke Daerah Buncit ingin menyusul suaminya yang sedang kerja disana. Ibu tersebut membantuku membawakan barang sampai di pasar Pasar Minggu dekat dengan Metro Mini 75. Keringat kembali bercucuran. Belum hilang rasa capek tersebut, aku turun dari metro mini dan ternyata gang tempat kostan baruku berada terlewati mungkin sejauh 30 meter. Ku kumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk membawa tas besar tersebut. Memasuki gang kugendong tas tersebut. Alhamdulillah, sampai juga di kostan. Sepi terlihat disana, kucoba mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak ada balasan. Handphone pun kukeluarkan dan kuhubungi orang yang punya kostan, Bang Judin namanya. Ternyata Bang Judin sedang berada di luar rumah dan tak lama kemudian Bang Imron kakaknya Bang Judin datang dan membukakan kostan dan kamar yang akan kutempati. Masih ada dua kamar kosong dan kuputuskan untuk memilih kamar yang jauh dari pintu. Kurasa itu pukul 13.00 aku tiba disana dan membereskan kamarku. Setelah sholat dan menata baju-baju ke dalam lemari dan barang-barang lainnya. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Pukul 14.30 aku meninggalkan kostan tersebut untuk kembali ke Bogor dan membeli setrikaan disana. Betapa kagetnya aku saat membeli sebuah Teh Kotak di dekat kostan karena harganya Rp 3500. Teh Kotak termahal yang pernah aku beli.

Sesampai di Stasiun Pasar Minggu, perutku mulai bereaksi alias kelaparan, beberapa potong kue kubeli di stasiun untuk mengganjal perut sambil menunggu kereta ekonomi mampir ke stasiun. Seperti biasanya, kereta ekonomi penuh sesak dengan orang-orang yang tak tau mau kemana. Aku berdiri diantara orang-orang dengan berbagai macam bau keringat. Keringatku pun mengucur karena pengapnya suasana kereta ekonomi. Berdesak-desakan dan kunikmati dengan senyuman. Tak tau kenapa, setiap kuberdiri di atas kereta yang sedang melaju kencang, aku membayangkan bahwa aku adalah manusia pengendali kereta layaknya Avatar pengendali angin yang sedang berdiri di atas awan. Hahaha, goncangan-goncangan itu serasa tabrakan awan-awan kecil di atas langit dan tugasku adalah menstabilkan goncangan awan maksudnya menstabilkan diri agak tidak jatuh dan bergoyang di dalam kereta. Ingin rasanya aku foto suasana kereta tersebut.

Satu stasiun sebelum stasiun Kota Bogor. Tiba-tiba terdengar suara yang cukup mengagetkan, “tok”, seperti suara serpihan. Ibu-ibu yang tadinya bergelantungan di dalam kereta tiba-tiba pindah ke gerbong lain. Bapak-bapak berkumpul menuju sumber suara dan kulihat darah berceceran dekat dengan gerombolan bapak-bapak tersebut. Apa yang terjadi? Suara tadi adalah suara batu yang mengenai kepala penumpang kereta yang sedang duduk dengan tenangnya. Tak tahu sengaja atau tidak sengaja, batu itu terlempar dari luar kereta yang sedang melaju kencang mengenai kepala salah satu penumpang. Darahnya banyak sekali berceceran, tak sanggup aku melihat kesana. Ternyata bukan hanya bapak tersebut yang terkena lemparan batu tersebu, tepat di belakangku, duduk seorang pemuda yang kepalanya dekat bagian telinga sedang di kompres menggunakan kain. Ternyata pemuda tersebut juga mengalami nasib yang sama. Kepalanya bocor karena batu yang tak tau sengaja atau tidak sengaja terlempar tersebut. Suasana kereta jadi mencekam buatku. Syukur aku masih selamat dan tidak terkena lemparan batu tersebut. Tak taulah apa yang terjadi jika aku duduk di kereta dan tiba-tiba batu mengenai kepalaku disertai kucuran darah segar yang mengalir. Hidup ini memang penuh resiko. Tak hanya di dalam kereta, di dalam kamar yang nyaman pun masih ada resikonya. Kita sebagai manusia tidak punya kuasa apapun terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.

Akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir, yup, Stasiun Kota Bogor. Dengan meninggalkan kondisi mencekam di dalam gerbong itu aku berjalan keluar stasiun dan menuju Pasar Anyar untuk membeli setrika karena takut tokonya tutup. Berjalan menyusuri pasar, tak kutemukan Toko Niaga Baru, atas rekomendasi temanku Myu. Kutelpon Myu dan pulsaku pun tinggal 247 rupiah. Mmm tiba juga di Toko Niaga Baru yang ternyata tertulis Toko Niaga Anyar. Kubeli sebuah setrikaan Philips yang sama persis dengan setrikaan yang ada di rumahku. Dipikir-pikir kenapa baru beli sekarang karena selama ini selalu pinjem punya teman. Setelah itu aku mampir ke Masjid Agung Bogor karena sudah jam setengah 5 dan aku belum sholat Ashar. Lelahku cukup terasa saat di angkot menuju Dramaga. Setengah 6 sore aku tiba di kostan dan segera melahap soto ayam nan lezat. Esok masih harus pindahan lagi dengan membawa laptop, setrika, dan barang-barang lainnya. Kerjaan praktik lapang sepertinya sudah melambaikan tangannya padaku. Ayo Semangat Buat Semuanya. Petualangan ini takkan sia-sia.

Iklan

9 Comments

  1. Makanya..naik pakuan ajaaaah…
    pintunya tertutup rapat…
    Ntar nulis juga aaah…

  2. semangatt!!

  3. Smangadh mba!!!
    jadi inget waktu pindahan dari jatim ke Bogor….
    bawa tas gedhe banget cuma sama ibu terus naik KA 18jam…
    met PL yaaaa…

  4. thx ya…
    skrg gi PL neh
    smangat

  5. semangat mbak!!! ^^

  6. hmm..pp bgr-jk..
    aku merasakannya 5 hari dlm seminggu..(tapi baru 3hari berjalan ne..)
    like a fish on the sarden can,,hehe..seru banget..jadi belajar defense sambil nolong orang sambil ngertiin org..
    jangan merugikan posisi org lain meskipun kita bisa dirugikan..
    yawh, tunggu aja di blogku..
    (blum sempet nulis coz brangkat subuh pulang malem..)

  7. sampe slah ketik blog sendiri..huhu..musti bubu nih..

  8. wah semangat mb ning…
    sebenernya aku juga bisa PP tapi,,, capek banget pastinya…
    apalagi klo ntar kerjaan PL dibawa pulang…
    smangat…
    seru khan?

  9. Ketika blogger saling berkunjung, maka tali silaturahmi akan tetap terjaga. Met kenal ya sob, nice article 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: