Skip navigation

Dah 3 kali lebaran di Darmaga

Tahun Pertama
Dulunya, tahun pertama di IPB, Idul Adha kulalui di asrama. Untungnya banyak teman-temanku yang tidak pulang, sama sepertiku, karena minggu-minggu itu sedang ujian akhir semester ganjil. Mengingat dua tahun yang lalu, malam takbiran aku masih di dalam angkot kampus dalam. Waktu itu aku masih ikut les bahasa Inggris di Lia yang ada di Sindang Barang. Sedih rasanya waktu itu, mendengar gema takbir di dalam angkot sampai akhirnya aku tiba di asrama dan bertemu dengan teman-teman lainnya. Sesampai di asrama, aku pun membenahi kamar karena besoknya mau lebaran(jadi ingat di rumah). Setelah itu aku dan teman-teman selorong, ikut takbiran bersama anak-anak yang lainnya yang masih ada di asrama. Keliling-keliling lorong dan asrama sambil membawa botol bekas air minum. Senang, terharu, sedih, semua bercampur jadi satu malam itu. Besoknya, aku dan teman-temanku sholat Ied di GWW.

Tahun Kedua
Tahun keduaku di IPB, hari raya Idul Adha aku lalui dikostan, bersama arie, yu’sinta, dan anak-anak kostan yang ga’ pulang. Waktu itu, kami sholat di masjid yang ada di dekat Balio. Masalah yang dihadapi ketika lebaran di kampus ialah soal makanan. Warung-warung tutup jadi sebelumnya aku harus beli makanan untuk cadangan sampai beberapa hari(walau cuma Indomie dan telor). Untungnya, ibu pemilik kost memberi kami makanan, lumayan banget nih, ada lontong, opor, dan masih banyak lagi. Jadi kerasa lebarannya(hehehehehe dasar anak kostan). Anehnya, lebaran di sini sepi banget ya, beda ama di tempatku. Kalau disini, setelah sholat Ied, kita maaf-maafan, setelah itu pulang ke rumah masing-masing. Kalau ditempatku biasanya setelah sholat Ied, semua warga saling kunjung-mengunjungi rumah-rumah tetangganya, sanak saudara, dan teman-temanya. Seharian keliling-keliling dari satu rumah ke rumah lainnya sambil mencicipi kue-kue lebaran yang disajikan.

Tahun Ketiga
Begitu juga dengan Idul Adha kali ini, aku masih tetap di Darmaga. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, libur Idul Adha kali ini agak lebih panjang (lumayanlah seminggu), banyak yang pulang ke kampung halaman dan banyak juga yang pergi ke rumah saudara, dan aku masih tetap di kostan bersama 11 orang lainnya yang merayakan hari besar ini di kostan.

Dulunya…
Sehari menjelang lebaran, aku jadi teringat rutinitasku menjelang lebaran tiba. Sehari sebelum lebaran merupakan hari yang paaaaaling sibuk. Semuanya harus dipersiapkan, mulai dari beres-beres rumah, masak makanan buat lebaran, sampai bantu-bantu ortu cari uang. Biasanya pada H-1, aku pergi ke pasar buat bantu-bantu ibu di warung sedangkan kakak dan adik-adikku di rumah untuk beres-beres dan masak. Habis saur dan sholat shubuh, biasanya aku tidur lagi sebentar dan bangun pukul 6 pagi. Sebelum berangkat ke pasar, biasanya aku bantu-bantu kakak dulu membersihkan rumah, walau cuma nyapu dan ngepel atau bahkan cuma cuci piring doang. Sekitar jam 8 pagi, aku bergegas pergi ke warung, bantu-bantu mama dan papa yang sudah sejak subuh berada di sana. Walau kerjaanku di warung hanya membantu mencatat pesanan atau mengurus uang yang masuk, aku rasa itu sangat membantu mama waktu itu karena pada hari itu akan ada banyak pembeli sehingga mama sangat bingung. Kadang kala ketika lagi musim kopi dan harga kopi lumayan tinggi, banyak orang-orang yang beli dagangan mama. Ketika hal itu terjadi, penghasilan pedagang pun meningkat, karena banyak yang ke pasar untuk belanja keperluan buat lebaran. Namun, ketika terjadi paceklik, dan apalagi ditambah dengan murahnya harga kopi, barang-barang dagangan pun tidak habis. Para pedagang bingung karena sering overestimate terhadap hasil penjualannya. Tidak jarang yang berjualan sampai malam hari atau ketika H+1 atau bahkan pada hari H masih berjualan karena stok barangnya masih banyak. Sungguh menyedihkan, ditambah lagi dengan kehidupan pasar yang keras dan kejam… Walaupun begitu, para pedagang tetap berjualan, karena apa lagi yang bisa dilakukan oleh pedagang-pedagang itu untuk menghidupi keluarganya. Begitu juga keadaannya dengan petani-petani kopi, penghasilan yang kurang menyebabkan mereka merayakan lebaran seadanya. Namun demikian, lebaran tetap lebaran. Hari kemenangan untuk umat muslim, tak peduli berapa banyak baju baru atau berbagai macam makanan yang tersedia, hendaknya esensi hari besar itu tetap terasa. Selamat lebaran semuanya, mohon maaf atas segala khilaf…

Iklan

2 Comments

  1. kupikir 3 lebaran berturut2
    gak taunya 😛

  2. Mmm …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: