Bismillahirrohmanirrohim…
Yup, pasti bisa!
Semangat!!!!
Juli 10, 2009
Bismillahirrohmanirrohim…
Yup, pasti bisa!
Semangat!!!!
Juli 6, 2009
Menjelang Pemilu yang tinggal 1 hari lagi…
Menjelang deadline dari dosen PS yang tinggal 3 hari lagi…
Menjelang semester 9 yang tinggal beberapa minggu lagi…
Menjelang pendaftaran wisuda yang katanya tinggal 1,5 bulan lagi…
dengan menimbang dan akhirnya memutuskan untuk Off sejenak dari dunia maya karena internet di kostan akan diputus mulai bulan Juli ini…
*tapi masih bisa internetan di kampus,, padahal gag punya password
*
Moga semuanya berjalan lancar…
April 30, 2009
Tidakkah aku memikirkan bahwa kenapa hidup ini biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial. Menjalani hari-hari seperti biasanya. Melaksanakan tugas dan kewajiban dengan biasa-biasa saja. Belajar, bermain, bekerja dengan cara yang biasa-biasa saja.
Yah, hidup dengan cara biasa. Asal nyaman dengan kondisi sekarang ini masih dengan kehidupan yang sama. Masih bisa makan, belajar, dan bertempat tinggal dengan nyamannya. Masih terasa nyamankah???
Sejak lahir diberi dengan fasilitas sandang, pangan, papan, bisa dibilang masih cukup untuk hidup. Aku bersekolah dari SD, TK mungkin, hingga dapat mengenyam pendidikan di strata 1. Apakah masih terasa biasakah???
Kadang kuberpikir,, apakah aku nyaman dengan kondisiku ini? Apakah ini kehidupan yang aku cari?
Kadang aku minder, sering sekali malah, kadang menyesali keadaan karena ketidakberdayaan.
Melihat kesana terlalu indah rasanya. Akankah tetap hidup seperti ini tentunya saaaangat biasa-biasa saja…
Sekolah-Kerja(mengabdi pada orang tua)-Nikah-Punya Anak-Mendidik Anak-…-dan akhirnya kembali pada-Nya
Inikah inti dari kehidupan???
-Minder-
Satu kata yang menyelimuti jiwa. Ketika melihat sesuatu yang sangat besar, hebat, dan sepertinya tak bisa digapai. Aku pun bertanya-tanya… mengapa? mengapa mereka bisa? bukankah kita sama-sama manusia? hidup di bumi yang sama? diciptakan oleh Tuhan yang sama? bahkan kita ada di lingkungan yang sama? siapa yang salah? aku… tentu saja aku…
-Semangat-
Kata yang menyejukkan jiwa. Ketika gundah, resah atas ketidakberdayaan bukankah masih ada harapan? sebuah semangat. Semangat yang selalu menyerukanku, “Yah, Aku Bisa”. Tidakkah kita semua sama saja? Sebuah semangat itu meracuni pikiranku untuk selalu berpikir positif. Akankah aku tetap seperti ini, biasa-biasa saja.
Senyum, tawa, dan canda mereka masih jelas terpancar…
Merekah penuh sabar menanti secercah kejayaan…
Langkah-langkahmu tiap detiknya tak akan ku sia-siakan…
Setetes peluhmu cambukkan bagiku..
Aku harus lebih baik…
Aku harus lebih baik…
Aku harus lebih baik…
Takkan kubiarkan semua ini sia-sia…
Takkan ku menyerah pada keadaan…
Terima kasih Tuhan…
Kan kuberikan semua yang terbaik untuk kalian….
Hanya senyummu yang kuharapkan.
April 17, 2009
Awalnya mau nulis tentang report terakhir praktik lapang yang sudah 2 minggu berlalu,, tapi sepertinya harus dipending dulu untuk tulisan yang satu ini…
Olahraga,,, mmm,, musuh besar bagi saya,, ga’ tau kenapa,, dari sejak SD saya ga’ suka yang namanya pelajaran Olahraga,,
Sebagian orang menganggap olahraga itu menyenangkan,,, apalagi dibandingkan pelajaran lainnya,, Yah,, emang menyenangkan bermain-main di halaman yang luas,, berlari-larian mengejar bola,,, hanya untuk memukul,, manangkap,, ataupun menendang bola tersebut,, ataupun sekedar mengeluarkan keringat dengan pemanasan-pemanasan ringan yang dilakukan…
Saya juga senang bermain-main,, berlari-larian,, sekedar mengucurkan keringat,, bercanda tawa dengan teman-teman lainnya,, tapi kenapa,, nilai olahraga saya sejak dulu sangat buruk,, dari SD hingga SMA,, nilai 6 pasti ada untuk pelajaran yang satu ini…
Pikiran….
Maret 13, 2009
Bukan rasa makanan, bukan juga rasa minuman, apalagi rasa ayam goreng yang lagi gw makan, bukan kondisi gw saat PL atau kondisi kesehatan gw yang lagi batuk n ga’ sembuh-sembuh mpe sekarang…
Ini masalah perasaan,, bukan keenamkelima indera yang merasakan… Tapi perasaan di hati gw yang merasakan……
Gimana cara ngobatinnya yah? Bingung jadinya…….
Saaaaaaaaaaaaaangat bingung…
Any Solutions?
Februari 14, 2009
Sabtu, 14 Februari 2009, menjelang praktik lapang pada hari senin, kuputuskan untuk mengangkut barang-barang dari Dramaga ke Warung Buncit. Satu tas besar yang kubawa dari rumah saat pertama kali datang ke IPB sudah berisi baju-baju, buku-buku, bahkan sepatu. Cukup berat bagiku untuk mengangkatnya, tapi selama masih bisa diangkat niat pindahan tetap dijalankan. Pukul 9.30 WIB aku berangkat dari kostan, di depan kostan langsung naik angkot kampus dalam dan berhenti di depan Al Amin karena saya harus mengambil uang dulu di ATM. Di depan Al Amin, terlihat temanku Nunung dan Isna dengan barang-barang bawaannya. Sebuah monitor di dalam kardus besar dan tas punggung yang dikenakan Nunung, sedangkan Isna terlihat membawa tas kecil dan membawakan tas yang nyaris sama besarnya dengan punyaku yang berisikan baju-baju dan barang-barang punya Nunung. Isna hanyalah membantu Nunung untuk membawakan barang-barang. Kasihan Nunung yang harus memindahkan komputernya dari Dramaga ke Kemayoran apalagi kalau sendirian. Setelah mengambil uang di ATM yang rencananya buat membayar kostan di Jaksel selama sebulan, kami bertiga “The Power Puff Girls” siap berangkat menuju Stasiun Kota Bogor. Satu angkot setengahnya penuh dengan barangku dan Nunung. Sesampai di stasiun, huff, harus berjalan agak tertatih membawa tas besar tersebut. Aku dengan tas punggung dan tas besar yang dijinjing. Isna dengan tas besar yang juga dijinjing dan Nunung dengan monitor dan tas punggungnya serta ada bungkusan sepatu di atasnya. Tawaran dari beberapa orang bayaran untuk membawakan kami tolak. Setelah membeli karcis kereta ekonomi Bogor-Jakarta kami kembali membawa barang masuk ke dalam kereta menyusuri gerbong demi gerbong mencari tempat duduk yang kosong. Alhamdulillah, ada bangku yang masih kosong, setelah meletakkan barang di bawah kursi, kami pun duduk dengan penuh keringat. Fuih,, jualan keringat kali yah, capek banget pokoknya.
Stasiun demi stasiun dilalui, gerbong pun penuh dengan orang-orang yang berjejalan di dalamnya. Tibalah di Stasiun Pasar Minggu Baru dan akupun harus turun meninggalkan Isna dan Nunung yang masih di dalam karena mereka akan turun di Stasiun Sawah Besar. Setelah berpamitan, aku melangkah sendiri kembali dengan tertatih-tatih mencoba keluar dari Stasiun Pasar Minggu. Baru beberapa meter membawa tas besar tersebut aku pun berhenti sejenak karena kecapekan. Tibalah seorang ibu yang baik hati yang menawarkan jasa membantuku membawa tas besar tersebut tanpa pamrih. Terimakasih Allah, kau kirimkan bantuanmu melalui seorang ibu yang baik hati. Ibu tersebut juga ingin ke Daerah Buncit ingin menyusul suaminya yang sedang kerja disana. Ibu tersebut membantuku membawakan barang sampai di pasar Pasar Minggu dekat dengan Metro Mini 75. Keringat kembali bercucuran. Belum hilang rasa capek tersebut, aku turun dari metro mini dan ternyata gang tempat kostan baruku berada terlewati mungkin sejauh 30 meter. Ku kumpulkan sisa-sisa kekuatanku untuk membawa tas besar tersebut. Memasuki gang kugendong tas tersebut. Alhamdulillah, sampai juga di kostan. Sepi terlihat disana, kucoba mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak ada balasan. Handphone pun kukeluarkan dan kuhubungi orang yang punya kostan, Bang Judin namanya. Ternyata Bang Judin sedang berada di luar rumah dan tak lama kemudian Bang Imron kakaknya Bang Judin datang dan membukakan kostan dan kamar yang akan kutempati. Masih ada dua kamar kosong dan kuputuskan untuk memilih kamar yang jauh dari pintu. Kurasa itu pukul 13.00 aku tiba disana dan membereskan kamarku. Setelah sholat dan menata baju-baju ke dalam lemari dan barang-barang lainnya. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak. Pukul 14.30 aku meninggalkan kostan tersebut untuk kembali ke Bogor dan membeli setrikaan disana. Betapa kagetnya aku saat membeli sebuah Teh Kotak di dekat kostan karena harganya Rp 3500. Teh Kotak termahal yang pernah aku beli.
Sesampai di Stasiun Pasar Minggu, perutku mulai bereaksi alias kelaparan, beberapa potong kue kubeli di stasiun untuk mengganjal perut sambil menunggu kereta ekonomi mampir ke stasiun. Seperti biasanya, kereta ekonomi penuh sesak dengan orang-orang yang tak tau mau kemana. Aku berdiri diantara orang-orang dengan berbagai macam bau keringat. Keringatku pun mengucur karena pengapnya suasana kereta ekonomi. Berdesak-desakan dan kunikmati dengan senyuman. Tak tau kenapa, setiap kuberdiri di atas kereta yang sedang melaju kencang, aku membayangkan bahwa aku adalah manusia pengendali kereta layaknya Avatar pengendali angin yang sedang berdiri di atas awan. Hahaha, goncangan-goncangan itu serasa tabrakan awan-awan kecil di atas langit dan tugasku adalah menstabilkan goncangan awan maksudnya menstabilkan diri agak tidak jatuh dan bergoyang di dalam kereta. Ingin rasanya aku foto suasana kereta tersebut.
Satu stasiun sebelum stasiun Kota Bogor. Tiba-tiba terdengar suara yang cukup mengagetkan, “tok”, seperti suara serpihan. Ibu-ibu yang tadinya bergelantungan di dalam kereta tiba-tiba pindah ke gerbong lain. Bapak-bapak berkumpul menuju sumber suara dan kulihat darah berceceran dekat dengan gerombolan bapak-bapak tersebut. Apa yang terjadi? Suara tadi adalah suara batu yang mengenai kepala penumpang kereta yang sedang duduk dengan tenangnya. Tak tahu sengaja atau tidak sengaja, batu itu terlempar dari luar kereta yang sedang melaju kencang mengenai kepala salah satu penumpang. Darahnya banyak sekali berceceran, tak sanggup aku melihat kesana. Ternyata bukan hanya bapak tersebut yang terkena lemparan batu tersebu, tepat di belakangku, duduk seorang pemuda yang kepalanya dekat bagian telinga sedang di kompres menggunakan kain. Ternyata pemuda tersebut juga mengalami nasib yang sama. Kepalanya bocor karena batu yang tak tau sengaja atau tidak sengaja terlempar tersebut. Suasana kereta jadi mencekam buatku. Syukur aku masih selamat dan tidak terkena lemparan batu tersebut. Tak taulah apa yang terjadi jika aku duduk di kereta dan tiba-tiba batu mengenai kepalaku disertai kucuran darah segar yang mengalir. Hidup ini memang penuh resiko. Tak hanya di dalam kereta, di dalam kamar yang nyaman pun masih ada resikonya. Kita sebagai manusia tidak punya kuasa apapun terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya.
Akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir, yup, Stasiun Kota Bogor. Dengan meninggalkan kondisi mencekam di dalam gerbong itu aku berjalan keluar stasiun dan menuju Pasar Anyar untuk membeli setrika karena takut tokonya tutup. Berjalan menyusuri pasar, tak kutemukan Toko Niaga Baru, atas rekomendasi temanku Myu. Kutelpon Myu dan pulsaku pun tinggal 247 rupiah. Mmm tiba juga di Toko Niaga Baru yang ternyata tertulis Toko Niaga Anyar. Kubeli sebuah setrikaan Philips yang sama persis dengan setrikaan yang ada di rumahku. Dipikir-pikir kenapa baru beli sekarang karena selama ini selalu pinjem punya teman. Setelah itu aku mampir ke Masjid Agung Bogor karena sudah jam setengah 5 dan aku belum sholat Ashar. Lelahku cukup terasa saat di angkot menuju Dramaga. Setengah 6 sore aku tiba di kostan dan segera melahap soto ayam nan lezat. Esok masih harus pindahan lagi dengan membawa laptop, setrika, dan barang-barang lainnya. Kerjaan praktik lapang sepertinya sudah melambaikan tangannya padaku. Ayo Semangat Buat Semuanya. Petualangan ini takkan sia-sia.
Februari 13, 2009
ga’ tau kenapa…
jadi cemas gini…
Why,, karena sebentar lagi PL…
Yup tepatnya hari senin tanggal 16 Fabruari 2008…
Sedih harus meninggalkan Bogor, menemukan hal lain yang ada di luar sana…
besok,, mulai pindahan tahap 1, disusul tahap 2 hari minggunya…
ah,,,
Semangat…
Kerjaan pertama selama sebulan : bikin database yg diintegrasikan sama web…
kerjaan selanjutnya : Olah data…
Semangat Semangat…
Yakinlah kalau aku pasti bisa dan memang bisa…
Januari 26, 2009

Tepat satu tahun lamanya, kejadian 26 Januari itu. Minggu-minggu itu ialah minggu terakhir ujian akhir semester ganjil, waktu itu aku masih semester V. Ada apa dengan 26 Januari 2008? Waktu itu, aku tidak lagi ada ujian karena ujian terakhir ialah dua hari sebelumnya, 24 Januari 2008, ujian mata kuliah komputasi statistika waktu itu. Hari itu hari yang spesial, persis kayak martabak spesial pake telor. Hari yang penuh kesibukan karena hari itu ialah deadline pengumpulan tugas akhir praktikum Rekayasa Perangkat Lunak.
Setelah ujian terakhir berlalu pada hari kamis sebelumnya, kami segera membicarakan bagaimana menyelesaikan tugas tersebut. Kami yang tidak mengerti bagaimana membuat suatu program diwajibkan membuat suatu program sederhana. Yah, Newstat namanya, sebuah E-Learning mengenai mata kuliah Metode Statistika dilengkapi dengan cara perhitungan sederhana statistika deskriptif seperti rata-rata dan standar deviasi. Dengan modal nekat, kami kelompok Orange (aku, nadya, icad, modjo, k’hermawan) akan membuat suatu e-learning. Php ga’ ngerti, cuma dengan bekal basis data saja yang baru dipelajari semester sebelumnya. Untung saja banyak orang-orang baik yang mau membantu seperti nur andi, k’ fikri, dan lain-lain yang ga’ bisa dipersebutkan satu per satu karena saking banyaknya.
Menjelang pengumpulan tugas tersebut, tekanan hebat melanda, karena keterbatasan pengetahuan kami sehingga kami bingung bagaimana menyelesaikannya. Bahkan hari jumatnya, 25 januari 2008, kami malah sempat menonton film Ratatouille di Student Center FMIPA. Menjelang pengumpulan tugas pada hari itu, 26 Januari 2008, kami sudah stand by di SC FMIPA untuk mengerjakan tugas dibantu oleh temen-temen 42 yang mau meminjamkan laptopnya (Erwin, Poppy). Mencoba menyelesaikan program yang belum jadi, memperbaiki yang sudah ada, bahkan DPPL pun belum jadi, begitu juga dengan DUPL. Malam menjelang, kami masih berada di SC FMIPA. Malam itu sepi, ujian sudah berakhir. Tak ada yang memperingatkan kami kalau sudah jam malam. Suasana semakin mencekam. Di sekret GSB, terdapat juga kelompok lainnya, yah itu kelompok Meebox yang bernasib sama dengan kelompok Orange. Malam mencekam tugas pun belum selesai, kami sudah berbagi tugas. Aku masih mencoba memperbaiki sintaks-sintaks yang tak kumengerti itu. Nadya sedang sibuk membereskan DPPL sedangkan Irsyad telah menyelesaikan User Manualnya. Menjelang jam 24.00, kami segera mencoba mengirimkan tugas kami tersebut, tapi apa daya, tugas belum selesai, belum lagi ditambah dengan lamanya waktu attach file. Kami baru beres mengirimkan tugas pada hari berikutnya, 27 Januari 2008 pada pukul setengah dua pagi berbeda dengan kelompok Meebox yang sudah pulang sekitar jam setengah satu…. Sungguh berat malam itu…
Untuk mengenang hari bersejarah itu, berikut hasil kutipan sebuah halaman yang berjudul profil.php
PM
Irsyad, our PM. Mahasiswa Statistika semester V yang berasal dari Tanjung Pandan, Babel. Keuletan dan kecerdasannya tidak diragukan lagi, terbukti dengan hasil belajarnya yang cukup memuaskan. Selain kuliah di Statistika IPB, irsyad juga disibukkan dengan kegiatannya sebagai pengajar. Ga’ hanya ngajarin anak SMA, tapi juga anak kuliahan, mulai dari PM, Kalkulus, Metstat, dll. Selain lumayan sibuk dalam bidang akademiknya, ternyata dibalik sosoknya yang keliatannya rajin banget, irsyad juga menciptain lagu dan punya band juga lowh. Terbukti waktu kita ngerjain newstat ini bareng2, lagunya irsyad diputer, lumayanlah cukup menghibur dikala kestressan mulai melanda,hehe.
Analyst
Melisa, Mahasiswi Statistika semester V IPB yang sekarang lagi liburan semester. Walaupun liburan, ternyata masih ada dua tugas kuliah lagi yang harus dikerjakan. Benar, memang salah satunya ialah newstat ini, yang cukup membuatku kadang-kadang pusing mendadak, kadang-kadang juga bikin bahagia, atau bikin emosi jadi labil. Whateverlah, semua ini memang berguna banget, sebuah pelajaran hidup yang dari ga’ tau jadi tau yang akan membuat suatu pengalaman berharga tentang kehidupan. Ga’ hanya tentang software, semuanya campur aduk disini. Skill, kerjasama, perasaan, moral semuanya jadi suatu kesatuan yang kompleks. Ya, memang itulah RPL, more than ordinary lesson. Setuju????!!!!
Programmer
Modjo, yang satu ini juga merupakan pribadi yang unik di STK42. Stylenya yang keliatannya nyantai dan kadang2 emang udah terlalu nyantai bikin modjo tambah unik. Gimana ga’, kuliah aja ga’ pernah bawa buku (maksudnya jarang banget), bisa ya…. Walaupun begitu, modjo neh, juga bisa serius juga terutama kalo ada proyek atau di organisasi, bener ga’?…. Terbukti dalam beberapa taun ini(kayak udah lama aja sampe bertaun-taun).
Tester
Hermawan, mahasiswa STK 40. Ga’ terlalu tau banyak tentang k’ hermawan, tapi kayaknya k’ hermawan itu orang yang super sibuk…. pernah memimpin berbagai organisasi.
Documentation
Nadya, mahasiswi STK 42. Nadya, sama seperti yang laennya (maksudnya anak stk) punya pribadi yang unik. Selain kuliah, Nadya ini juga anggota DPM FMIPA lowh yang hobinya rapat itu(heheheh)…. Nadya juga merupakan orang yang punya komitmen tinggi dan tanggung jawab(makanya jadi anggota DPM:)) terhadap apa yang dikerjakannya. Nadya juga punya rencana mau ngambil double minor, smangat Nad, jangan sampai tugas ini membuat nadya berpikir 2 kali. Selain itu, nadya itu tidurnya suka malem2 banget(apa ga’ ngantuk ya).
Desember 27, 2008
Hidup ini adalah pilihan
Di antara banyak pilihan, Aku harus memilih
Memilih pilihan yang terbaik untukku
Benarkah ini pilihanku?
Pilihlah apa yang diyakini…
Dan Aku yakin, inilah pilihan terbaik untukku…
Smangat..
November 24, 2008
Suatu event besar yang sudah lama aku nanti-nanti yang jatuh pada tanggal 22-23 november 2008. Suatu rangkaian acara seminar dan kompetisi statistika nasional yang sudah 4 kali diadakan oleh himpunan keprofesian Gamma Sigma Beta. Kalau tahun lalu aku menjadi panitia, staf seksi khusus tepatnya yang mengurusi masalah kompetisinya, sekarang aku mengikuti acara ini sebagai peserta tentunya yang tahun lalu tidak bisa kuwujudkan karena menjadi panitia. Tantangan terbesar bagiku karena harus berkompetisi dengan mahasiswa-mahasiswa Statistika di seluruh Indonesia apalagi aku didanai departemen untuk mengikuti acara ini. Aku beserta ke delapan temanku (Monik, Nur H, Andi S, Dini, Arie, Indah, Trimi, Ningsih) berjuang untuk mempertahankan piala bergilir Andi Hakim Nasoetion.
Registrasi dimulai dari pukul 7 pagi. Aku dan temanku, Arie, sebenarnya ingin datang tepat pada waktu tersebut. Sayangnya pagi itu, kondisi fisikku sedang tidak baik. Kepalaku sangat pusing dan badanku juga panas mungkin karena kelelahan sehabis pembekalan praktik lapang selama 2 hari sebelumnya. Ketika aku tiba di Auditorium rektorat, suasana kompetisi mulai terasa namun sayangnya kondisiku semakin buruk dan mukaku keliatan pucat sekali. Walaupun begitu aku memaksakan diri untuk tetap mengikuti seminar sebelum babak penyisihan dimulai. Namanya orang sakit jadi tidak terlalu memperhatikan isi seminar. Ketika seminar berlangsung, aku tertidur dengan lelapnya sambil sedikit membaca bahan kuliah regresi. Setelah tidur, pusing pun berkurang dan Alhamdulillah kondisiku sudah membaik. Aku sangat berterima kasih kepada teman-temanku terutama Arie yang telah menemani setiap saat, tanzil yang bersedia mijitin, andi yang memberiku tolak angin, temen-temen 42 baik peserta maupun SC (Monik, Nur H, Andi S, Dini, Arie, Indah, Trimi, Ningsih, Trizar, Anton K, Viar, Nur Andi, Sigit, Wiwit, Lola, Myu, Nadya, Verry, dll) yang sudah memberi perhatian, semangat, panitia yang sudah memberi minyak kayu putih dan member semangat, supi yang menemani sholat zhuhur, segenap warga Statistika yang telah memberikan dukungan dan semangat melalui sms, komti yang telah mengusahakan dana untuk mengikuti acara ini.
Tepatnya pukul 2 lebih 15 menit, kami kembali memasuki ruangan untuk babak penyisihan. Aku mendapatkan nomor urut yang ke-45. Ketika lomba dimulai, adrenalin meningkat dan Alhamdulillah aku sembuh (yeah). Kubaca soal demi soal yang tertulis dalam bahasa Inggris. Soal pertama tentang uji yang digunakan untuk pengujian parametrik dan nonparametrik. Untuk yang parametrik aku masih ingat untuk nonparametrik sayang sekali aku sudah lupa dan belum membaca lagi mengenai analisis data kategorik. Soal selanjutnya lebih ke konsep peluang dan teori statistika. Lagi-lagi aku belum belajar teori statistika 2 sehingga tidak bisa mengerjakan dan untuk soal peluang pun aku masih salah menjawabnya. Pada soal bagian kedua terdapat dua soal lagi berbahasa Indonesia. Dengan harapan bisa mengerjakan soal bagian kedua, jawaban pada bagian pertama aku kumpulkan walau belum selesai, 30 menit sebelum waktu babak penyisihan habis. Kaget melihat kedua soal tersebut, pada soal pertama ialah menghitung nilai harapan kuadrat tengah. Saya tahu prosedurnya tapi lupa aturannya, lagi-lagi karena belum belajar Rancob 2. Untuk soal kedua pun mencari nilai harapan dari simpangan baku pun saya salah. Harapan untuk lolos ke babak selanjutnya pun mengecil walau peluang menjadi semifinalis ialah sepertiga.
Dengan wajah yang lebih ceria, kusiapkan mental untuk menerima kenyataan. Apapun yang terjadi aku harus tetap tegar dan bersyukur. Alhamdulillah, aku masuk ke babak semifinal walau hanya mendapatkan skor 62 untuk babak penyisihan. Babak semifinal ini ialah menguji kemampuan kita dalam menganalisis data menggunakan software statistika. Saya agak kecewa setelah panitia yang menyatakan bahwa software yang digunakan sudah ditentukan di soal padahal sebelumnya disediakan 3 software yang boleh digunakan yaitu SAS 9.1, SPSS 13, dan Minitab 14. Setelah melihat soal babak semifinal hanya terdapat sebuah kasus yang harus dikerjakan dengan Excell atau SPSS 13. Untuk memahami soal saja membutuhkan waktu yang lama. Untuk soal pertama saja yang seharusnya menggunakan Excell malah kukerjakan menggunakan SPSS 13. Untuk menguji valid atau tidaknya suatu kuesioner aku hanya bisa menganalisis menggunakan SPSS dengan mencari Alfa Cronbach. Ternyata ada metode lain yang lebih sederhana menggunakan korelasi dan itu di luar jangkauan pengetahuanku yang seharusnya aku cari tahu lagi. Untuk soal kedua pun aku ragu-ragu menjawabnya antara memakai analisis regresi atau korelasi saja dan kuputuskan untuk menggunakan korelasi biasa. Soal yang ketiga kujawab dengan asal-asalan yang penting ada isinya saja. Peluang untuk masuk final sepertinya semakin menurun.
Pengumuman finalis pun ditayangkan. Aku merasa gugup namun siap menghadapi kenyataan karena buruknya tes babak semifinalku. Babak final yang kuharap-harapkan ternyata bukan milikku. Mereka ialah pemilik keenam peserta lainnya yang empat diantaranya ialah teman-temanku yaitu Ningsih, Arie, Monik, dan Dini. Babak final yang merupakan puncak dari Statistika Ria kunikmati dengan menjadi penonton dan memberikan semangat kepada teman-temanku. Jujur, aku ingin sekali berada di depan panggung dan presentasi dihadapan para juri dan audience. Aku ingin ditanya-tanya oleh juri seperti mereka. Aku ingin merasakan heningnya auditorium dan terpecah oleh presentasi dariku. Tapi langkahku harus terhenti sampai babak semifinal. Maafkan aku teman-teman telah mengecewakan kalian semua.
Setelah mendengarkan presentasi dari keenam finalis, aku yakin bahwa yang akan menjadi juara 1 ialah monik dan yang masuk 3 besar lainnya ialah ningsih dan mahasiswa STIS. Ternyata prediksiku dan juga teman-temanku salah, yang menjadi juara pertama ialah mahasiswa STIS, I Gusti Ayu Nyoman Sawitri, juara kedua Monica Halim, dan juara ketiga Widya Ningsih. Aku turut bersuka cita atas kemenangan ini walau piala Andi Hakim Nasoetion berpindah tangan ke STIS. Teringat janjiku pada diri sendiri yang kuucapkan bersama ningsih yaitu kami harus menang. Walaupun aku tidak bisa mewujudkan hal tersebut, temanku ningsih sudah membuktikan dan memenuhi janjinya. Janjiku diwakilkan saja olehnya. Aku yakin tahun depan Statistika IPB akan merebut piala bergilir yang menjadi tugas mahasiswa angkatan 43. Buat angkatan 44, siap-siap jadi panitianya.
Banyak pelajaran yang kudapat dari Statistika Ria 2008 ini, diantaranya: